Jumat, 20 September 2013

"Haruskah Dia Yang Pergi?"

“Haruskah Dia Yang Pergi?”

Namaku Raysha Syifa Berlyanna, aku biasa dipanggil dengan sebutan Shasha. Aku punya sahabat yang bernama Nhasya dan Farel, mereka udah pacaran selama masih duduk dibangku SMA.

SMA santa Maria adalah SMA yang dapat ku kenang sepanjang masa. Karna dari awal masuk sekolah sampai perpisahan sekolah..hubungan ku dengan Rafa masih terjalin. Dan hingga kini kami sama-sama memasuki Universitas yang sama..Hanya saja ia sudah semester 6 dan aku masih di semester 4.

Hubungan kami memang termasuk awet kalo orang jawa bilang. Tapi, yah namanya saja hubungan.. pasti ada permasalahan-permasalahan yang silih berganti. Tapi beruntungnya, masalah demi masalah dapat kami lewati bersama.

“Coba lihat ke depan gerbang siapa itu yang datang?” Tanya mama menyuruhku.
“Siapa? Iya tunggu sebentar..” Jawab ku
“Pasti Rafa” Kata papa
“Iya pa,ma.. itu Rafa” Tunjuk ku dibalik pintu

Aku pun segera membukakan pintu untuk Rafa.

“Rafa” Kata ku
“Jalan yuk. Mumpung libur kuliah nih” Ajak Rafa
“Asik lah ya motor baru” Kata ku sambil tersenyum
“Udah cepet..” Kata Rafa
“Kita mau kemana dulu?” Tanya ku
“Aku bakal ajak kamu ke suatu taman di mana taman itu adalah tempat dimana kita jadian” Jawab Rafa

Sesampainya kami di taman, tiba-tiba Rafa ingin menyampaikan sesuatu pada ku

“Shasha.. Aku mau bilang sesuatu sama kamu” Pinta Rafa
“Hahaha.. Sesuatu?? Bilang aja langsung..” Tawa ku
“Serius nih..” Kata Rafa sedikit tertawa
“Ia deh… mau bilang apa sih??” Tanya ku penasaran

Tiba-tiba suara dari ringtone ponsel Rada berdering.. Dan setelah Rafa mengangkat serta berbincang-bincang sedikit dengan yang menelfonnya, aku pun langsung bertanya.

“Siapa?” Tanya ku
“Papa” Kata Rafa
“Kenapa?” Tanya ku
“Kata papa entar malem kita mau ke rumah mu sha… Dan ini lah yang mau aku bicarain sama kamu” Jelas Rafa
“Tunggu dulu deh… Maksudnya apa ya?” Tanya ku kebingungan
“Nanti juga kamu akan tahu sendiri” Balas Rafa tersenyum


Perasaan penuh dag-dig-dug tumbuh bercampur jadi satu dalam hati ku. Aku benar-benar tak mengerti akan apa yang Rafa bicarakan di taman tadi siang.

Jam pun mulai menunjuk ke angka 19.15. Keluarga Rafa pun datang ke rumah ku dan sedikit berbincang-bincang pada kedua orang tua ku. Aku pun merasa kaget saat orang tua Rafa mengatakan tentang pertunangan ku dengan Rafa.

“Apa? Kamu mau melamarku?” Tanya ku kaget kepada Rafa
“Iya sha.. Setelah aku piker-pikir.. Kita pacaran telah lama, kenapa tidak masuk ke jenjang selanjutnya? Tapi tenang. Aku bakal nunggu kamu sampai lulus kuliah baru kita ke jenjang yang lebih lagi kok sha..” Jelas Rafa

Ternyata maksud Rafa dan keluarganya ke rumah ku hanya untuk melamar ku?? Oh tidak.. Gak nyangka banget bakal berlanjut ke jenjang selanjutnya,

Akhirnya, lamaran Rafa diterima oleh aku dan keluarga ku. Kami merencanakan tentang hari pertunangan kami. Dan akhirnya, aku dan Rafa sepakat untuk memilih hari dimana hari jadian kami ke 5 tahun lah yang akan kami jadikan sebagai hari pertunangan kami berdua.

Ternyata tidak disangka, hari jadian kami tepat untuk yang ke 5 tahun hanya tinggal 2 minggu lagi. Kami mulai mempersiapkan segala seuatu yang kami butuhkan untuk acara tunangan kami berdua.

Hari sudah berganti, hanya tinggal 10 hari lagi kami bertunangan. Kami berdua berencana untuk membeli cincin setelah kami pulang kuliah. Kami memilih cincin terbaik yang nantinya akan saling kami pasangkan ke jari kami masing-masing.

Saat kami sedang memilih cincin mana yang cocok untuk kami, kami sempat memiliki perdebatan pendapat. Tapi untuk saja kami menemukan cincin yang kami saling tunjuk bersama.

“Rafa.. Cincinnya yang ini aja ya” Pinta ku
“Yang ini aja lebih cocok untuk kita” Tunjuk Rafa ke cincin yang lain
“Yang ini limited edition mas..mba” Sambung pelayan toko
“Waw… Amazing… keren banget ini sayang.. Ini aja” Pinta ku
“Ok ini aja mba..”

Akhirnya kami pun mendapatkan cincin yang sesuai untuk kami berdua.

Keesokan harinya, aku memang ada jam kuliah jam siang sama seperti Rafa. Dan pagi harinya, karna memang nggak ada kerjaan, aku sengaja membuat model-model desain unduangan untuk aku dan Rafa. Dan kami berniat untuk membuat undangan besok sepulang kami kuliah.

Dari depan pintu gerbang yang memang aku tutup, terdengar suara clakson dari motor. Dan segera aku membukakan pintu gerbang dan ternyata Rafa yang datang.

“ Rafa… Masuk aja.. Di dalem ada mama kok” Ajak ku
“Di teras aja deh kalo memang ada mama kamu di dalem” Pinta Rafa
“Ok..”



Tumben-tumben nya Rafa mengajak ku ngobrol berdua di depan teras. Setelah Rafa memarkirkan motor nya disebelah rumah, ia pun langsung duduk di kursi yang ada di depan teras rumah ku.

“Aku bawaain ini buat kamu” Kata Rafa sambil menyodorkan sebuah kotak bingkisan.
“Aduh.. Thanks banget ya.. Tapi dalam rangka apa ini? Tunangan kita masih 1 minggu lagi.. Dan hari ini aku juga tidak sedang berulang tahun.. Buat apa?” Tanya ku yang merasa bingung
“Udah ambil aja”
“Iya deh..” Kata ku sambil menerima bingkisan pemberian Rafa
“Loh kok Cuma di pegang? Dibuka dong..” Pinta Rafa
“Iya Rafa bawel..” Senyum ku sambil membuka bingkisan pemberian Rafa
“Waw… Kotak music… Makasih Rafa..” Kata ku
“Iya sama-sama.. Jika kamu kangen aku, bukalah kotak music ini.. Dan jika kamu ingin mengenangku ingatlah akan kotak music ini” Jelas Rafa
“Menengenangmu? Apa sih maksud kamu Raf?” Tanya ku dengan nada bingung dan penasaran
“Suatu saat nanti kamu pasti tahu..” Jawab Rafa
“Raf.. aku makin nggak ngerti deh sama apa yang kamu ucapin” Kata ku
“Ya udah kalo gitu, aku pamit pulang dulu ya.. Oiya aku minta maaf nanti aku nggak bisa ngampirin kamu buat berangkat bareng ke kampus” Jelas Rafa
“Iya.. Kenapa nggak bisa bareng?” Tanya ku
“Iya nggak kenapa-kenapa” Jawab Rafa
“Hari ini kok kamu aneh banget sih?” Tanya ku
“Ya udah aku permisi dulu..” Pamit Rafa

Setelah Rafa keluar dari pekarangan rumah, aku merasakan ada seuatu yang janggal.

Tiba-tiba, suara benturan yang sangat keras terdengar di telinga ku. Aku pun bergegas lari menuju luar pekarangan rumah. Dan ternyata..

“Rafa…….” Teriak ku

Aku segera menghampiri Rafa yang keadaanya sudah berlumuran darah dan motor yang ia kenakan sudah hancur total tertabrak sebuah truck.

Rafa segera dilarikan ke rumah sakit terdekat. Setelah ia diperiksa oleh dokter yang menanganinya, dokter pun langsung meminta kepada para petugas medis yang lain untuk memberitahukan kepada keluarga Rafa. Dengan rasa kekhawatiran, aku langsung bertanya kepada dokter yang menangani Rafa.

“Bagaimana dok keadaan Rafa?” Tanya ku sambil menghapus air mata yang setetes demi setetes mulai berjatuhan.
“Kami sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi kami sangat minta maaf..” Ujar dokter dengan nada kecewa
“Kenapa dok?” Tanya ku
“Rafa.. Rafa sudah tidak bisa diselamatkan” Jelas dokter
“Apa? Nggak mungkin..” Teriakku

Aku pun segera masuk ke dalam ruangan yang dimana Rafa sedang di rawat di dalamnya.



“Rafa… kamu nggak mungkin ninggalin aku kan? Kamu hanya tidur Rafa.. Bangun Rafa… Kamu sudah janji kalau besok kita akan membuat undangan pertunangan kita Rafa..” Tangisku

Beberapa menit kemudian orang tua ku beserta orang tua Rafa pun datang. Mereka sama-sama menangis karna sudah diberitahukan kepada pihak rumah sakit kalau  Rafa sudah tiada.

“Rafa… kenapa begitu cepat kamu meninggalkan kami berdua nak?” Tangis mama Rafa
“Mama… Kenapa Rafa tega ninggalin Shasha sendirian ma? 1 minggu lagi kami tunangan ma..” Tangisku yang langsung memeluk mama
“Shasha..Mama.. Sudahlah.. Ikhlas kan saja kepergian Rafa.. Ia akan tenang disana jika kita semua mau merelakan kepergiannya dan memaafkan dosa-dosa yang telah ia perbuat dengan sengaja maupun tidak disengaja” Jelas papa Rafa

Keesokan harinya adalah hari pemakaman Rafa. Aku benar-benar merasa tidak bisa menerima ini semua begitu saja. Aku masih belum bisa merelakan Rafa pergi untuk selama-lamanya dalam kehidupan ku.

“Rafa..Kenapa harus kamu yang pergi?” Tangis ku
“Sabar ya sha..Tuhan nggak bakal ngasih cobaan berat diluar kemampuan kita sha..” Kata Nhasya sambil memelukku dari samping.
“Mungkin ini jalan yang terbaik sha” Sambung Farel
“Ini bukan jalan yang terbaik! Kenapa harus Rafa yang pergi?” Kataku yang masih terhanyut dalam suasana duka

Rafa.. Terima kasih karna kamu udah sempet jadi malaikat di hatiku.. Makasih juga buat waktu yang selama ini sudah menjadi masa lalu dikehidupan ku.. Begitu cepatnya kamu ninggalin aku Raf.. Mungkin benar kata Farel, mungkin ini jalan yang terbaik untuk kita berdua Raf.. Aku akan selalu mengingat mu Raf, aku gak akan pernah lupain kamu Raf.. Selamat Jalan Rafa Mashiro Dominikus.. Semoga kamu dapat hidup bahagia dan diterima di Sisi-Nya.

The End




Karya : Yohanna Adys
Follow My Twitter ya... :) @yohanna_adys




Tidak ada komentar:

Posting Komentar