“Haruskah
Dia Yang Pergi?”
Namaku Raysha Syifa Berlyanna, aku biasa
dipanggil dengan sebutan Shasha. Aku punya sahabat yang bernama Nhasya dan
Farel, mereka udah pacaran selama masih duduk dibangku SMA.
SMA santa Maria adalah SMA yang dapat ku kenang
sepanjang masa. Karna dari awal masuk sekolah sampai perpisahan
sekolah..hubungan ku dengan Rafa masih terjalin. Dan hingga kini kami sama-sama
memasuki Universitas yang sama..Hanya saja ia sudah semester 6 dan aku masih di
semester 4.
Hubungan kami memang termasuk awet kalo orang
jawa bilang. Tapi, yah namanya saja hubungan.. pasti ada
permasalahan-permasalahan yang silih berganti. Tapi beruntungnya, masalah demi
masalah dapat kami lewati bersama.
“Coba lihat ke depan gerbang siapa itu yang
datang?” Tanya mama menyuruhku.
“Siapa? Iya tunggu sebentar..” Jawab ku
“Pasti Rafa” Kata papa
“Iya pa,ma.. itu Rafa” Tunjuk ku dibalik pintu
Aku pun segera membukakan pintu untuk Rafa.
“Rafa” Kata ku
“Jalan yuk. Mumpung libur kuliah nih” Ajak Rafa
“Asik lah ya motor baru” Kata ku sambil
tersenyum
“Udah cepet..” Kata Rafa
“Kita mau kemana dulu?” Tanya ku
“Aku bakal ajak kamu ke suatu taman di mana taman
itu adalah tempat dimana kita jadian” Jawab Rafa
Sesampainya kami di taman, tiba-tiba Rafa ingin
menyampaikan sesuatu pada ku
“Shasha.. Aku mau bilang sesuatu sama kamu”
Pinta Rafa
“Hahaha.. Sesuatu?? Bilang aja langsung..” Tawa
ku
“Serius nih..” Kata Rafa sedikit tertawa
“Ia deh… mau bilang apa sih??” Tanya ku
penasaran
Tiba-tiba suara dari ringtone ponsel Rada
berdering.. Dan setelah Rafa mengangkat serta berbincang-bincang sedikit dengan
yang menelfonnya, aku pun langsung bertanya.
“Siapa?” Tanya ku
“Papa” Kata Rafa
“Kenapa?” Tanya ku
“Kata papa entar malem kita mau ke rumah mu sha…
Dan ini lah yang mau aku bicarain sama kamu” Jelas Rafa
“Tunggu dulu deh… Maksudnya apa ya?” Tanya ku
kebingungan
“Nanti juga kamu akan tahu sendiri” Balas Rafa
tersenyum
Perasaan penuh dag-dig-dug tumbuh bercampur jadi
satu dalam hati ku. Aku benar-benar tak mengerti akan apa yang Rafa bicarakan
di taman tadi siang.
Jam pun mulai menunjuk ke angka 19.15. Keluarga
Rafa pun datang ke rumah ku dan sedikit berbincang-bincang pada kedua orang tua
ku. Aku pun merasa kaget saat orang tua Rafa mengatakan tentang pertunangan ku
dengan Rafa.
“Apa? Kamu mau melamarku?” Tanya ku kaget kepada
Rafa
“Iya sha.. Setelah aku piker-pikir.. Kita pacaran
telah lama, kenapa tidak masuk ke jenjang selanjutnya? Tapi tenang. Aku bakal
nunggu kamu sampai lulus kuliah baru kita ke jenjang yang lebih lagi kok sha..”
Jelas Rafa
Ternyata maksud Rafa dan keluarganya ke rumah ku
hanya untuk melamar ku?? Oh tidak.. Gak nyangka banget bakal berlanjut ke
jenjang selanjutnya,
Akhirnya, lamaran Rafa diterima oleh aku dan
keluarga ku. Kami merencanakan tentang hari pertunangan kami. Dan akhirnya, aku
dan Rafa sepakat untuk memilih hari dimana hari jadian kami ke 5 tahun lah yang
akan kami jadikan sebagai hari pertunangan kami berdua.
Ternyata tidak disangka, hari jadian kami tepat
untuk yang ke 5 tahun hanya tinggal 2 minggu lagi. Kami mulai mempersiapkan
segala seuatu yang kami butuhkan untuk acara tunangan kami berdua.
Hari sudah berganti, hanya tinggal 10 hari lagi
kami bertunangan. Kami berdua berencana untuk membeli cincin setelah kami
pulang kuliah. Kami memilih cincin terbaik yang nantinya akan saling kami
pasangkan ke jari kami masing-masing.
Saat kami sedang memilih cincin mana yang cocok
untuk kami, kami sempat memiliki perdebatan pendapat. Tapi untuk saja kami
menemukan cincin yang kami saling tunjuk bersama.
“Rafa.. Cincinnya yang ini aja ya” Pinta ku
“Yang ini aja lebih cocok untuk kita” Tunjuk
Rafa ke cincin yang lain
“Yang ini limited edition mas..mba” Sambung
pelayan toko
“Waw… Amazing… keren banget ini sayang.. Ini
aja” Pinta ku
“Ok ini aja mba..”
Akhirnya kami pun mendapatkan cincin yang sesuai
untuk kami berdua.
Keesokan harinya, aku memang ada jam kuliah jam
siang sama seperti Rafa. Dan pagi harinya, karna memang nggak ada kerjaan, aku
sengaja membuat model-model desain unduangan untuk aku dan Rafa. Dan kami
berniat untuk membuat undangan besok sepulang kami kuliah.
Dari depan pintu gerbang yang memang aku tutup,
terdengar suara clakson dari motor. Dan segera aku membukakan pintu gerbang dan
ternyata Rafa yang datang.
“ Rafa… Masuk aja.. Di dalem ada mama kok” Ajak
ku
“Di teras aja deh kalo memang ada mama kamu di
dalem” Pinta Rafa
“Ok..”
Tumben-tumben nya Rafa mengajak ku ngobrol
berdua di depan teras. Setelah Rafa memarkirkan motor nya disebelah rumah, ia
pun langsung duduk di kursi yang ada di depan teras rumah ku.
“Aku bawaain ini buat kamu” Kata Rafa sambil
menyodorkan sebuah kotak bingkisan.
“Aduh.. Thanks banget ya.. Tapi dalam rangka apa
ini? Tunangan kita masih 1 minggu lagi.. Dan hari ini aku juga tidak sedang
berulang tahun.. Buat apa?” Tanya ku yang merasa bingung
“Udah ambil aja”
“Iya deh..” Kata ku sambil menerima bingkisan pemberian
Rafa
“Loh kok Cuma di pegang? Dibuka dong..” Pinta
Rafa
“Iya Rafa bawel..” Senyum ku sambil membuka
bingkisan pemberian Rafa
“Waw… Kotak music… Makasih Rafa..” Kata ku
“Iya sama-sama.. Jika kamu kangen aku, bukalah
kotak music ini.. Dan jika kamu ingin mengenangku ingatlah akan kotak music
ini” Jelas Rafa
“Menengenangmu? Apa sih maksud kamu Raf?” Tanya
ku dengan nada bingung dan penasaran
“Suatu saat nanti kamu pasti tahu..” Jawab Rafa
“Raf.. aku makin nggak ngerti deh sama apa yang
kamu ucapin” Kata ku
“Ya udah kalo gitu, aku pamit pulang dulu ya..
Oiya aku minta maaf nanti aku nggak bisa ngampirin kamu buat berangkat bareng
ke kampus” Jelas Rafa
“Iya.. Kenapa nggak bisa bareng?” Tanya ku
“Iya nggak kenapa-kenapa” Jawab Rafa
“Hari ini kok kamu aneh banget sih?” Tanya ku
“Ya udah aku permisi dulu..” Pamit Rafa
Setelah Rafa keluar dari pekarangan rumah, aku
merasakan ada seuatu yang janggal.
Tiba-tiba, suara benturan yang sangat keras
terdengar di telinga ku. Aku pun bergegas lari menuju luar pekarangan rumah.
Dan ternyata..
“Rafa…….” Teriak ku
Aku segera menghampiri Rafa yang keadaanya sudah
berlumuran darah dan motor yang ia kenakan sudah hancur total tertabrak sebuah
truck.
Rafa segera dilarikan ke rumah sakit terdekat.
Setelah ia diperiksa oleh dokter yang menanganinya, dokter pun langsung meminta
kepada para petugas medis yang lain untuk memberitahukan kepada keluarga Rafa.
Dengan rasa kekhawatiran, aku langsung bertanya kepada dokter yang menangani
Rafa.
“Bagaimana dok keadaan Rafa?” Tanya ku sambil
menghapus air mata yang setetes demi setetes mulai berjatuhan.
“Kami sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi
kami sangat minta maaf..” Ujar dokter dengan nada kecewa
“Kenapa dok?” Tanya ku
“Rafa.. Rafa sudah tidak bisa diselamatkan”
Jelas dokter
“Apa? Nggak mungkin..” Teriakku
Aku pun segera masuk ke dalam ruangan yang
dimana Rafa sedang di rawat di dalamnya.
“Rafa… kamu nggak mungkin ninggalin aku kan?
Kamu hanya tidur Rafa.. Bangun Rafa… Kamu sudah janji kalau besok kita akan
membuat undangan pertunangan kita Rafa..” Tangisku
Beberapa menit kemudian orang tua ku beserta
orang tua Rafa pun datang. Mereka sama-sama menangis karna sudah diberitahukan
kepada pihak rumah sakit kalau Rafa
sudah tiada.
“Rafa… kenapa begitu cepat kamu meninggalkan
kami berdua nak?” Tangis mama Rafa
“Mama… Kenapa Rafa tega ninggalin Shasha
sendirian ma? 1 minggu lagi kami tunangan ma..” Tangisku yang langsung memeluk
mama
“Shasha..Mama.. Sudahlah.. Ikhlas kan saja
kepergian Rafa.. Ia akan tenang disana jika kita semua mau merelakan
kepergiannya dan memaafkan dosa-dosa yang telah ia perbuat dengan sengaja
maupun tidak disengaja” Jelas papa Rafa
Keesokan harinya adalah hari pemakaman Rafa. Aku
benar-benar merasa tidak bisa menerima ini semua begitu saja. Aku masih belum
bisa merelakan Rafa pergi untuk selama-lamanya dalam kehidupan ku.
“Rafa..Kenapa harus kamu yang pergi?” Tangis ku
“Sabar ya sha..Tuhan nggak bakal ngasih cobaan
berat diluar kemampuan kita sha..” Kata Nhasya sambil memelukku dari samping.
“Mungkin ini jalan yang terbaik sha” Sambung
Farel
“Ini bukan jalan yang terbaik! Kenapa harus Rafa
yang pergi?” Kataku yang masih terhanyut dalam suasana duka
Rafa.. Terima kasih karna kamu udah sempet jadi
malaikat di hatiku.. Makasih juga buat waktu yang selama ini sudah menjadi masa
lalu dikehidupan ku.. Begitu cepatnya kamu ninggalin aku Raf.. Mungkin benar
kata Farel, mungkin ini jalan yang terbaik untuk kita berdua Raf.. Aku akan
selalu mengingat mu Raf, aku gak akan pernah lupain kamu Raf.. Selamat Jalan
Rafa Mashiro Dominikus.. Semoga kamu dapat hidup bahagia dan diterima di
Sisi-Nya.
The End
Karya : Yohanna Adys
Follow My Twitter ya... :) @yohanna_adys
Tidak ada komentar:
Posting Komentar